Senin, 09 November 2015

BELAJAR DARI FILOSOFI PION




FILOSOFI PION DAN ARTI PERJUANGAN
Oleh: Rohmat D. Yunianta (https://habieneka.blogspot.com/)

Menarik, belajar dari mengamati bagaimana pion ditakdirkan untuk menjadi korban pertama dalam setiap permainan Bidak Catur. Pion, dianggap sebagai prajurit garda terdepan yang berjuang sebagai benteng pertama yang harus dikorbankan untuk melindungi prajurit atasannya, utamanya adalah raja itu sendiri.
Pion  dapat juga diumpamakan sebagai anak kecil yang sekolah untuk mendapatkan predikat tertinggi hingga dapat bermetamorfosis menjadi bidak unggulan setingkat patih, menteri, dst. Lalu begitukah sebatas kemampuan pion??
Baiknya kita simak sisi lain dari pion yang mungkin terabaikan selama ini.
*      Maju terus,
Tidak pernah ada sejarahnya pion mundur ke belakang, ke tempat semula untuk menghindari sergapan lawan atau untuk mengatur strategi dalam pertandingan. Apabila pion telah dilepas maju satu bidak ke depan, maka ia tetap akan bertahan disana atau maju terus, tidak bisa lagi mundur. Ini mengindikasikan bahwa kehidupan ini perlu disikapi untuk terus melihat ke depan karena kehidupan tidak mungkin akan membalik ke masa lalu, masa yang telah terlewati seperti bidak yang telah ditinggalkan.
*      Si mungil yang gigih,
Jika dilihat dari ukuran, maka pion adalah tokoh paling mungil yang ada dalam bidak catur. Namun tunggu dulu, bukan berarti mungil itu tak berdaya. Ia, pion itu adalah bidak yang gigih. Ia akan bertahan meskipun harus bertempur menghadapi pion lawan, menteri lawan, atau mungkin patih yang menghadapinya. Dengan bergandengan tangan dengan pion lain, dengan memposisikan dalam alur diagonal dengan pion lain, maka pion adalah pihak yang gigih, yang tak mudah rapuh, tak mudah patah ibarat mati satu tumbuh seribu. Saling menjaga sesama, saling mendukung, dan menjadi garda terdepan perjuangan.
*      Rela berkorban
Lagi, pion adalah bidak yang diposisikan sebagai korban pertama untuk melindungi prajurit di belakangnya. Ini seakan membuatnya tak berguna. Padahal pion adalah bidak yang rela berkorban untuk strategi kemenangan. Coba lihat, bagaimana sering pion dijadikan umpan gratis untuk memancing lawan membuka celah agar pertahanannya goyah. Namun, pion tetap berada pada garisnya untuk berkorban terutama jika raja benar-banar terdesak.
*      Setia,
Pion adalah tipe yang setia pada filosofi permainan. Ia tak akan mundur ketika telah melangkah. Ia menerima ketika dikorbankan untuk sebuah misi yang mulia –kejayaan. Pion tetap rendah hati dan tak menolak untuk setiap tugas yang diberikan karena kesetiaan kepada pihak tertinggi dalam permainan menyadarkannya untuk patuh dan taat pada aturan yang diberikan.
*      Mampu bermetamorfosis,
Pion adalah satu-satunya bidak catur yang mampu bermetamorfosis menjadi sosok lain yang lebih unggul derajatnya dalam permainan. Ketika ia melangkah, setapak demi setapak tetapi tanpa pamrih. Gigih melaju hingga melewati rintangan pihak musuh, maka pada akhirnya ia sampai pada garis terakhir yang ada di pihak lawan. Jika sampai pada titik nadir itu, pion akan bermetamorfosis menjadi sosok lain yang diinginkan. Ia dapat menjadi kuda, menteri, beteng, atau bahkan menjadi tokoh patih. Ini berkat gigihnya melangkah tanpa menghiraukan siapa dirinya yang kecil, yang terabaikan, yang lemah.
 
Lalu, masihkan kita berfikir tentang diri kita sendiri yang kecil, yang tak terlihat, yang lemah, atau apapun yang menganggap negatif pada citra diri kita?? Jika iya, alangkah lebih baik jika kita kembali menyimak ulang tentang filosofi pion di atas. #selamatmetamorfosis


Selasa, 03 November 2015

SEBUAH KEPINGAN SENJA







Senja di matamu adalah rindu yang tak  berbalas

Luka di hatimu adalah nyata yang tak kunjung sampai


Aku menunggu setiap detik pertemuan


Yang mungkin juga akan kau rencanakan…


Hingga aku lupa,


Itu sudah berbulan-bulan yang lalu


hingga  mencapai dua dasawarsa sebelum sempat


Kutemui percakapan kita


Masihkah tersisa asa di rongga jiwamu


Tatkala rindu kita hampir lalu??


Ataukah…


Haruskah kita berharap pada bayang senja


Saat kepingnya mulai memudar di balik pekatnya peradaban?

20/10/15


Senin, 13 April 2015

BUKAN HARUS, TAPI INGIN


 
Pernahkah kita melakukan sesuatu karena keharusan, atau karena keinginan? Harus berarti mau tak mau kita harus melakukan hal tersebut, sedangkan ingin berarti tanpa ada paksaan pun kita akan melakukan tindakan karena ini menyangkut passion diri. Nah disadari atau tidak, keterpaksaan mungkin akan menyelesaikan tugas, tapi dengan keinginan, tugas akan selesai tanpa sadar bahwa garis finish telah dicapai. Beberapa hal tentang keinginan yang mungkin sederhana, namun menarik untuk disimak, di bawah ini diantaranya:

*      Passion membuktikan bahwa ia tidak melindungi anda dari kemunduran tetapi akan memastikan bahwa kegagalan bukanlah sesuatu yang final.

*      Kemunduran bukanlah keburukan, malainkan sebagai pembelajaran yang memberikan kesempatan bagi Anda untuk memikirkan ulang proses Anda. Kemunduran mengingatkan betapa pentingnya mimpi-mimpi anda.

*      Mencintai apa yang anda lakukan maka keajaiban alami akan mendatangi anda. Dan jangan pernah membuang-buang waktu anda untuk memikirkan hal lain yang tidak dapat anda ubah atau pendapat orang lain tentang anda.

*      Beranilah untuk mencari hal yang membuat anda bersemangat meski hal tersebut bukan hal yang membuat anda terlatih melakukanya. Temukan hal yang paling Anda cintai, sampai anda tidak lagi sabar menunggu matahari terbit untuk melakukan ulang.

*      Teruslah mencari, dan jangan berpuas diri

*      Tidak ada orang yang ahli dalam segala hal, tetapi seseorang pasti ahli dalam satu hal

*      Passion tidak cukup, tetapi ketika ia bertemu dengan bakat, hal tersebut dapat mengubah dunia
 
Menunggu tanda, 1442015

Minggu, 29 Maret 2015


Setelah Bersyukur, Lalu??

 
Kita mesti bersukur. Bahwa kita masih diberi waktu
Entah Sampai kapan kah, waktu yang masih tersisa
Semuanya menggeleng.
Semuanya terdiam
Semua tak mengerti
Yang terbaik hanyalah segera bersujud
Mumpung kita mash diberi waktu. (Ebiet)
 
 
Petikan lirik dari Ebiet. Menyentuh dan mengena di hati bagi yang menyadari. Tak banyak yang tersadar dengan lirik tersebut. Bukan tak memahami isinya, namun lebih kepada tak peduli dengan apa yang dimaksud. Masa berakhir masih panjang. Begitulah kata mereka yang tak peduli dengan adanya batas akhir perjalanan. Tak masalah bila mereka tak peduli. Lebih baik kita fokus pada yang peduli saja. Yang sepemahaman, begitu kan?

 Bukan berarti kita kemudian mengabaikan mereka, namun kita lebih tertuju pada yang lebih baik saja, yang bisa mengarahkan kepada kebaikan, kepada kedamaian dan keadaan yang lebih baik. Itu yang diharapkan. Lalu, sampai sini sajakah yang kita lakukan?? Tentu saja tidak. Setelah kita mengambil keputusan untuk akan kemana kita melangkah, setelah kita memusatkan perhatian pada tujuan akhir yang telah jelas, lalu kita kemudian meniti langkah agar kita sampai disana secara aman dan selamat dengan resiko yang dapat diminimalkan seminimal mungkin, agar tak ada penyesalan di setelahnya.

Untuk itu, perlu dipetakan langkah-langkah yang ingin kita tempuh. Pertama setidaknya tetapkan tiga tujuan. Tiga tujuan itu adalah tujuan jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek. Jangka panjang adalah jelas mendapat ridho-Nya dengan masuk ke surga-Nya sebagai pribadi-pribadi yang baik, berbakti pada orangtua, bahagia bersama anak dan istri, serta mampu memberikan andil yang positif pada sesama dan alam semesta. Jangka menengah adalah sekitar sepuluh taun mndatang, engkau akan jadi apa, tentu saja yang bermanfaat. Misalnya saja engkau akan menulis atau akan jadi penulis buku motivasi dan inspirasi pengusaha yang bermanfaat dan banyak menyumbang sih untuk kebaikan sesama yang membutuhkan dan sebagainya.
Untuk jangka pendek, yakni tujuan paling singkat dalam meraih kedua tujuan sebelumnya, adalah dengan menjalani apa yang ada sekarang secara maksimal, dengan kesungguhan hati dan dengan keyakinan positif bahwa apa yang kita lakukan akan mendapat ridho-Nya dan akan mengarah pada kesuksesan di masa yang akan datang. Pada intinya, terus berupaya dan jangan menyerah, jangan putus asa dan jagan takut mencoba, serta jangan takut gagal. Begitu sederhana sebenarnya namun tak mudah melampauinya. Perlu kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas dan kerja ikhlas.

Renungan dalam purnama, yang waktunya terlupa….