Minggu, 03 April 2022

BAHASA DAN KE-INDONESIAAN KITA

 RD Yunianta

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai jasa pahlawannya. Bangsa yang mau mengakui keberagaman dan juga mewarisi setiap tinggalan yang pernah diberikan oleh pendahulunya. Bila kita mau mengingat kembali zaman kejayaan di masa lampau, zaman dimana pernah nusantara ini menjadi besar berkat dua kerajaan, Sriwijaya dan Majapahit. Lalu, pada akhirnya nanti akan menjelma menjadi sebuah bangsa besar yang berdaulat, Indonesia.

Sejak disepakatinya hasil konggres pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, yang salah satunya menyepakati bahwa bahasa persatuan adalah bahasa Indonesia, maka secara sosiologis kita telah memiliki bahasa resmi kita. Lebih lanjut, jika menilik kembali bagaimana pemilihan bahasa melayu pada masa itu dan kemudian disepakati sebagai bahasa lingua-franca menjadi bahasa Indonesia, kita menjadi besar karenanya. Kita menjadi berdaulat dan memiliki kemampuan untuk berdikari dengan milik kita sendiri, dengan bahasa kita sendiri.

Meskipun dalam proses perkembangannya, bahasa Indonesia itu dinamis, berkembang sesuai dengan konteks zaman yang selalu berubah, memiliki khasanah dan juga mampu menyerap dan meleburkan menjadi penambah kosakata kita, berarti menunjukkan bahwa bahasa Indonesia ini merupakan cerminan penuturnya, mampu beradaptasi dengan keaadaan lingkungannya. Bahasa Indonesia luwes dalam berproses meskipun tetap tidak akan meninggalkan jati dirinya sebagai bahasa pemersatu di seluruh sabang hingga merauke.


        Lantas, ketika kita mulai dihadapkan dengan berbagai problema yang ada di sekitar kita, khususnya dalam pemakaian bahasa baik dalam kehidupan sehari hari ketika bercengkrama dengan handai tolan, maupun ketika berbicara dalam forum resmi, haruskah kita mulai mengalihkan bahasa menjadi bahasa yang berbeda?

Taruhlah misalnya, dalam presentasi ilmiah maupun suasana perkuliahan, haruskah kita memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa percakapan. Jawabannya tentu saja, Ya. Karena dengan berbahasa Indonesia kita akan semakin menghargai dan juga mencintai ciri kebesaran kita sebagai sebuah bangsa yang berdaulat. Bangsa yang mampu menggunakan bahasanya dalam setiap komunikasi dan sarana ekspresi diri.

Lain kasus misalnya, kita mendapatkan klien warga asing dalam sebuah diskusi resmi, haruskah kita mengubah bahasa kita menjadi bahasa mereka meskipun kita tahu dengan menyampaikan komunikasi dengan bahasa mereka akan menimbulkan kesan lebih intelek? Jika dilihat dari sudut ke-Indonesiaan, karena forum itu masih dalam lingkup NKRI, alangkah lebih elok dan bijaksana kita menggunakan bahasa kita sendiri dan mencoba memahamkan bahasa kita kepada klien asing, dengan tujuan bahwa kita merdeka di negeri kita sendiri. Kita berdaulat dengan memakai bahasa kita, dan kita bangga dengan apa yang kita miliki, bahasa Indonesia.

Pertanyaannya adalah, bagaimana jika kllien asing kita sama sekali nol pemahaman terkait bahasa Indonesia selain kata ya dan tidak? Tentu akan bijak jika kita bisa memahami situasi tersebut tanpa harus berupaya utuk mengubah penggunaan bahasa kita dalam situasi tersebut. Kita perlu menggunakan bahasa klien, tetapi tetap dalam koridor untuk memahamkan bahasa kita ke dalam percakapan selanjutnya. dengan kata lain, kita bisa berlayar dengan dua sampan sekaligus, menyampaikan apa yang ada dalam keinginan kita, juga mencoba membelajarkan bahasa Indonesia kepada lawan tutur kita.

        Jika pun hal itu masih terasa sulit, toh kehidupan ini juga sulit. Lalu kenapa kita menjadi mamang terhadap kesulitan? Jika orientasi kita adalah meng-Indonesiakan bahasa kita sendiri, kenapa masih risau dengan kebingunan lawan tutur untuk memahami dan memelajarinya. Asalkan ada upaya sadar dari kita bersama bahwa bahasa Indonesia ini juga perlu dituturkan bukan hanya kepada mitra tuturan yang benar-benar memahami bahasa Indonesia atau setidaknya mengerti tentang bahasa Indonesia.

Dengan demikian, sebagai bangsa yang besar, seharusnya kita memiliki rasa kebanggaan terhadap bahasa kita sendiri terlepas dari mana kita akan menilai seberapa penting penggunaan bahasa kita dalam setiap konteks tuturan yang kita gunakan. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar