Rabu, 13 April 2022

Membudayakan Pendidikan Prestatif pada Anak



 : Rohmat Dwi Yunianta, M.Pd.

Pendidikan merupakan salah satu cara untuk mengantarkan anak menuju gerbang kesuksesan di masa depan. Pendidikan memang bukan satu-satunya, namun menjadi bagian yang teramat penting sebagai cara yang dapat ditempuh oleh setiap pendidik maupun insan pendidikan untuk membentuk kepribadian generasi berikutnya. Pendidikan, baik di sekolah maupun di luar sekolah adalah wujud konkret dalam mengimplementasikan konsep luhur keberhasilan yang berkepribadian.

Anak, sebagai subjek maupun objek dalam pendidikan perlu untuk dididik menjadi insan tangguh, pantang menyerah, dan berkepribadian dalam menempuh setiap ilmu yang diberikan kepadanya. Anak dididik untuk tekun dalam belajar, sabar dalam menghadapi kegagalan, dan berintegritas dalam menyampaikan pendapatnya. Anak juga perlu dididik untuk tidak cepat puas dengan hasil yang didapat, tidak menyombongkan apa yang dimiliki dan mudah putus asa dengan kegagalan yang dialami.

Dalam proses pembelajaran di kelas, anak perlu dididik untuk menjadi pribadi yang mandiri dan juga memiliki motivasi berprestasi. Mandiri di sini berarti anak dapat memanfaatkan segala potensi yang dimiliki untuk mengembangkannya dalam proses pembelajaran. Anak tidak memiliki ketergantungan berlebih kepada temannya, gurunya, atau bahkan lingkungan sekitarnya. Motivasi berprestasi juga perlu dimiliki oleh anak agar dalam belajar anak terus memacu diri untuk menjadi lebih baik.


            Motivasi berprestasi bukan hanya menjadi juara di dalam kelas (dalam hal akademik saja). Lebih dari itu, motivasi berprestasi dapat muncul ketika anak memahami dirinya sendiri, memahami potensi yang dimiliki dan kekurangan yang dimiliki. Selanjutnya anak akan memfokuskan pada potensi apa yang dapat dikembangkan dalam dirinya. Potensi yang terus diasah tersebut tentu akan menjadikannya lebih unggul dalam bidang tersebut meskipun ada kekurangan dalam bidang lainnya. Hal ini berarti bahwa siswa yang berprestasi, bisa saja dari sisi akademik maupun non-akademik (misalnya: berprestasi dalam bidang olahraga atau seni).

Syah (2005: 156) menyebutkan banyak faktor yang memengaruhi prestasi belajar siswa. Faktor tersebut dibagi menjadi tiga, yakni faktor internal, faktor eksternal dan faktor pendekatan belajar. Faktor internal meliputi faktor fisiologis dan psikologis,  faktor eksternal meliputi lingkungan sosial dan lingkungan nonsosial. Faktor pendekatan belajar meliputi pendekatan tinggi, pendekatan menengah dan pendekatan rendah. Perbedaan prestasi belajar ini perlu dilihat penyebabnya. Selama ini, yang menjadikan dasar penilaian guru terhadap prestasi belajar siswa di kelas adalah IQ siswa. Jika siswa memiliki IQ (dilihat dari input masuk) sudah tinggi, maka nilai belajar siswa juga tinggi. Begitu pula sebaliknya, jika IQ rendah maka nilai-nilai belajar siswa pun akan rendah.

Banyaknya faktor yang menjadikan anak berprestasi dalam belajar baik dari sisi akademik maupun non-akademik tersebut akan kondusif jika didukung oleh kemauan dari dalam diri maupun dari luar diri siswa. Jika ada sinergi pada kedua aspek tersebut maka akan menghasilkan pribadi anak yang berprestasi juga berkepribadian karena ada dorongan dan dukungan dari diri dan pihak lain.

Pendidikan yang berkepribadian, atau sering disebut sebagai pendidikan karakter, merupakan proses pendidikan yang mengimplementasikan pola kepribadian adiluhur dalam proses pembelajaran. Guru atau pendidik memiliki kewajiban untuk memasukkan nilai-nilai karakter dalam proses mengajarnya. Guru yang dalam istilah Jawa dikenal dengan digugu lan ditiru (dipatuhi dan ditirukan), menjadi sosok sentral dalam mengejawantahkan makna karakter bagi anak didiknya. Guru yang menjadi tauladan harus memiliki sikap yang positif dan optimistis agar memotivasi anak didiknya untuk memiliki mental unggul dan berprestasi.

Mulyasa (2013: 13) menyebutkan delapan hal yang perlu diperhatikan dalam menyukseskan pendidikan karakter di sekolah. Kedelapan hal tersebut adalah pahami hakikat pendidikan karakter, sosialisasikan dengan tepat, ciptakan lingkungan kondusif, kembangkan sarana dan sumber belajar yang memadai, disiplinkan peserta didik, pilih kepala sekolah yang amanah, wujudkan guru yang dapat digugu dan ditiru, serta libatkan seluruh warga sekolah dalam menyukseskan pendidikan karakter.

Dari delapan hal tersebut, sarana dan sumber yang memadai, lingkungan yang kondusif, dan pendisiplinan peserta didik (memotivasi peserta didik untuk disiplin) menjadi faktor yang penting terkait prestasi belajar. Ketiga hal tersebut dijadikan bagian dari tolak ukur pencapaian prestasi belajar peserta didik. Semoga bermanfaat.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar