: Rohmat Dwi Yunianta, M.Pd.
Pendidikan merupakan salah satu cara untuk
mengantarkan anak menuju gerbang kesuksesan di masa depan. Pendidikan memang
bukan satu-satunya, namun menjadi bagian yang teramat penting sebagai cara yang
dapat ditempuh oleh setiap pendidik maupun insan pendidikan untuk membentuk
kepribadian generasi berikutnya. Pendidikan, baik di sekolah maupun di luar
sekolah adalah wujud konkret dalam mengimplementasikan konsep luhur keberhasilan
yang berkepribadian.
Anak, sebagai
subjek maupun objek dalam pendidikan perlu untuk dididik menjadi insan tangguh,
pantang menyerah, dan berkepribadian dalam menempuh setiap ilmu yang diberikan
kepadanya. Anak dididik untuk tekun dalam belajar, sabar dalam menghadapi
kegagalan, dan berintegritas dalam menyampaikan pendapatnya. Anak juga perlu
dididik untuk tidak cepat puas dengan hasil yang didapat, tidak menyombongkan
apa yang dimiliki dan mudah putus asa dengan kegagalan yang dialami.
Dalam proses pembelajaran
di kelas, anak perlu dididik untuk menjadi pribadi yang mandiri dan juga
memiliki motivasi berprestasi. Mandiri di sini berarti anak dapat memanfaatkan
segala potensi yang dimiliki untuk mengembangkannya dalam proses pembelajaran.
Anak tidak memiliki ketergantungan berlebih kepada temannya, gurunya, atau
bahkan lingkungan sekitarnya. Motivasi berprestasi juga perlu dimiliki oleh
anak agar dalam belajar anak terus memacu diri untuk menjadi lebih baik.
Motivasi berprestasi bukan hanya menjadi juara di dalam kelas (dalam hal akademik saja). Lebih dari itu, motivasi berprestasi dapat muncul ketika anak memahami dirinya sendiri, memahami potensi yang dimiliki dan kekurangan yang dimiliki. Selanjutnya anak akan memfokuskan pada potensi apa yang dapat dikembangkan dalam dirinya. Potensi yang terus diasah tersebut tentu akan menjadikannya lebih unggul dalam bidang tersebut meskipun ada kekurangan dalam bidang lainnya. Hal ini berarti bahwa siswa yang berprestasi, bisa saja dari sisi akademik maupun non-akademik (misalnya: berprestasi dalam bidang olahraga atau seni).
Syah (2005: 156)
menyebutkan banyak faktor yang memengaruhi prestasi belajar siswa. Faktor
tersebut dibagi menjadi tiga, yakni faktor internal, faktor eksternal dan
faktor pendekatan belajar. Faktor internal meliputi faktor fisiologis dan
psikologis, faktor eksternal meliputi
lingkungan sosial dan lingkungan nonsosial. Faktor pendekatan belajar meliputi
pendekatan tinggi, pendekatan menengah dan pendekatan rendah. Perbedaan
prestasi belajar ini perlu dilihat penyebabnya. Selama ini, yang menjadikan
dasar penilaian guru terhadap prestasi belajar siswa di kelas adalah IQ siswa.
Jika siswa memiliki IQ (dilihat dari input masuk) sudah tinggi, maka nilai
belajar siswa juga tinggi. Begitu pula sebaliknya, jika IQ rendah maka nilai-nilai
belajar siswa pun akan rendah.
Banyaknya faktor
yang menjadikan anak berprestasi dalam belajar baik dari sisi akademik maupun
non-akademik tersebut akan kondusif jika didukung oleh kemauan dari dalam diri
maupun dari luar diri siswa. Jika ada sinergi pada kedua aspek tersebut maka
akan menghasilkan pribadi anak yang berprestasi juga berkepribadian karena ada
dorongan dan dukungan dari diri dan pihak lain.
Pendidikan yang
berkepribadian, atau sering disebut sebagai pendidikan karakter, merupakan
proses pendidikan yang mengimplementasikan pola kepribadian adiluhur dalam
proses pembelajaran. Guru atau pendidik memiliki kewajiban untuk memasukkan
nilai-nilai karakter dalam proses mengajarnya. Guru yang dalam istilah Jawa
dikenal dengan digugu lan ditiru (dipatuhi dan ditirukan), menjadi sosok sentral dalam
mengejawantahkan makna karakter bagi anak didiknya. Guru yang menjadi tauladan
harus memiliki sikap yang positif dan optimistis agar memotivasi anak didiknya
untuk memiliki mental unggul dan berprestasi.
Mulyasa (2013: 13)
menyebutkan delapan hal yang perlu diperhatikan dalam menyukseskan pendidikan
karakter di sekolah. Kedelapan hal tersebut adalah pahami hakikat pendidikan
karakter, sosialisasikan dengan tepat, ciptakan lingkungan kondusif, kembangkan
sarana dan sumber belajar yang memadai, disiplinkan peserta didik, pilih kepala
sekolah yang amanah, wujudkan guru yang dapat digugu dan ditiru, serta
libatkan seluruh warga sekolah dalam menyukseskan pendidikan karakter.
Dari delapan hal tersebut, sarana dan sumber
yang memadai, lingkungan yang kondusif, dan pendisiplinan peserta didik
(memotivasi peserta didik untuk disiplin) menjadi faktor yang penting terkait
prestasi belajar. Ketiga hal tersebut dijadikan bagian dari tolak ukur
pencapaian prestasi belajar peserta didik. Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar