: RD Yunianta
Dua hal yang cukup berbeda di atas, bukan berarti bahwa
salah satunya lebih unggul daripada yang lain. Bukan berarti bahwa saat siswa
belajar dalam keheningan itu jauh lebih baik daripada belajar dengan sedikit
suara gaduh di sekitarnya (mis: mendengarkan music). Anak yang belajar pada
saat sepi sering disebut tipe visual, dan anak yang dalam keramaian untuk dapat
belajar dengan baik adalah tipe audio. Keduanya memiliki keunggulan
masing-masing yang dapat mengiringi kesuksesan si anak.
Kita sebagai pendidik seharusnya tak usah khawatir
dengan karakter anak yang mempunyai tipe-tipe tersebut. Yang perlu kita lakukan
bukanlah menyamakan persepsi atau pandangan tentang pola asuh dan teknik
belajar, namun cukup memahami pola perilaku anak. Dan mengarahkan yang
baik-baik agar dengan pola belajar apapun, anak dapat mencapai hasil maksimal
dan sesuai yang diharapkan.
Selain itu, tidak semua anak ahli dalam bidang akademik saja.
Tidak semuanya mampu untuk menjadi bintang kelas. Bintang kelas itu sudah cukup
baik, namun bintag luar kelas juga tak kalah baikanya. Bintang lapangan dan
bintang panggung misalnya. Anak tak boleh dipaksa untuk selalu menjadi juara di
kelasnya jika memang bukan itu yang menjadi minat dan bakatnya.
Tujuan kita sebagai pendidik bukanlah memaksa anak
menjadi apa yang kita inginkan, namun sebaliknya menjadikan anak mencaapai
puncak tertinggi yang dapat ia raih. Misalnya saja, anak yang terlihat mempunyai
bakat tarik suara, kita bawa untuk kursus menyanyi. Dengan bimbingan oleh
pakarnya akan mampu mengetahui mana yang baik dan dapat diserap anak sehingga
potensi yang selama ini terpendam layaknya harta karun dapat muncul dan dapat
bermanfaat untuk kelangsungan hidupnya atau bahkan punya andil kebaikan bagi
sekitarnya.
Satu hal yang pasti, bahwa pendidikan itu berlangsung
sepanjang hayat. Dari lahir sampai ke liang lahat. Oelh sebab itu, didik anak
untuk selalu menyukai ilmu pengetahuan dan tanamkan pola asuh pendidikan dalam
kehidupan. Salah satunya, usahakan anak gemar membaca dan mau menyerap
informasi apapun dengan tentu saja diarahkan mana yang perlu diterima atau yang
difilter. Dengan rajin membaca, akan mempengaruhi pola
pikir kita dan mengubah dari yang terkungkung menjadi terbuka karena semakin
banyaknya pengetahuan yang diterima anak.
Anak adalah buah hati bagi orangtuanya dan pendidik.
Bekali anak dengan kemampuan yang dapat mengembangkan potensinya jauh lebih
baik daripada memaksa anak menjadi juara hanya dalam kelas saja. Anak mempunyai
dunianya sendiri, bukan orangtua dalam bentk mini. Jadi, anak perlu memilih apa
yang ingin ia lakukan dan ia pelajari, tanpa ada kekangan yang berlebihan.
Tetapi tentu saja, arahan dari orang tua dan pendidik sangat penting untuk
kebaikan anak sendiri agar ia tak tersesat dalam pencarian menuju
kedewasaannya.
Semoga bermanfaat!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar