ASN DAN HARAPAN
SEJUTA UMAT
Beberapa waktu
ini, semua tenaga honorer di sekolah negeri –terutama yang mengabdi sudah amat
lama- berharap cemas dapat ruang kuota yang akan mengisi kekosongan Asn di
lingkungan instansi pemerintahan. Doa dan
tangis terus saja membuncah tatkala mulai bermunculan pengumuman, untuk
P1, P2, dan P3 yang ternyata tidak semuanya terakomodasi. Hanya beberapa –sebagian
kecil- yang mendapat kesempatan untuk menjadi ASN di tahun 2022 ini. Bahkan,
peserta P1 yang notabene sudah lulus passing grade pun dibuat tak berdaya
dengan adanya pembatasan kuota penerimaan dengan dalih keterbatasan anggaran.
Lalu, salah
siapakah semua ini? Jika kita menyalahkan kepada pemerintah, atau lembaga yang
diamanahi untuk mengurusi semua seluk beluk rumitnya dunia pendidikan, maka
kesalahan itu seakan tidak ada habisnya. Jika kita salahkan sistem, yang sudah
disusun sedemikian rupa hingga akhirnya tetap tidak bisa meloloskan semua,
pasti kita juga akan tetap kecewa. Dan sekali lagi, jika kita salahkan para
pencari kerja, yang disebut sebagai tenaga honorer itu, yang katanya ikhlas
mengabdi sekian lama, untuk diangkat menjadi ASN, rasanya juga tidak pas,
kenapa ikhlas lalu menuntut menjadi ASN?? Berarti memang bukan ikhlas secara
alami, melainkan ada harapan di kemudian hari yang diusung oleh tenaga honorer
untuk perbaikan nasibnya di masa mendatang.
Dari sekian
banyaknya persoalan yang cukup pelik itu, tak apalah jika kita tarik pelajaran,
bahwa menggantungkan harapan pada seseorang, pada lembaga, dan atau pada
siapapun di dunia ini pasti sedikit banyak akan mendatangkan kecewa pada diri
sendiri. Kita tak mungkin bisa membuat siapapun mengikuti keinginan dan harapan
kita.
Langkah terbaik
adalah, dengan tetap berusaha semaksimal mungkin, dengan tambahan doa, dan
pasrahkan segala hasilnya pada keputusan alam. Kita sebatas mengikuti arusnya
saja. Sekian.