Minggu, 17 April 2022

Sepasang mata..

 

 


Sepasang mata..

Pernahkah Anda berfikir bahwa mata dua anda adalah symbol sejoli yang setia?

Meski berbeda posisi, kanan dan kiri, meski tak pernah bisa melihat satu sama lain, meski tak mungkin saling bertegur sapa, meski selalu menatap jalan masing-masing, namun keduanya selalu seirama.

Ketika yang satu menangis, menangis pula yang lain. Ketika yang satu sakit, sakit pula yang sebelahnya.

Ketika satu menatap objek yang focus, maka mata satunya menatap objek yang sama dengan sama fokusnya.

Itulah perumpamaan pada pasangan sejati, pada sebuah komitmen bersama, pada pasangan suami istri, Atau pada apapun yang saling mengikat maupun terikat satu sama lain.

Ketika sudah memutuskan untuk bersama, salah satu harus menjadi bagian yang lain. Yang satu sedih, yang lain ikut sedih. Yang satu menangis, yang lain ikut meneteskan air mata.

Itulah hidup dan kehidupan, saling memberi, saling menerima. Saling mengasihi, saling manatap, meski tidak satu tujuan, meski berbeda keyakinan, meski berbeda komitmen.

Begitulah. Terus menuju, terus melangkah, terus bersama dalam berbagai perbedaan yang ada.

Sepasang mata mengajarkan kepada kita akan ada arti pentingnya kebersamaan dalam perbedaan. Kanan dan kiri, menatap dan meratap, gelap dan terang, semua keluh kesah akan sirna jika diikuti dengan penerimaan pada setiap kesempatan.

Introspeksi diri, Ramadhan 2022

Rabu, 13 April 2022

Membudayakan Pendidikan Prestatif pada Anak



 : Rohmat Dwi Yunianta, M.Pd.

Pendidikan merupakan salah satu cara untuk mengantarkan anak menuju gerbang kesuksesan di masa depan. Pendidikan memang bukan satu-satunya, namun menjadi bagian yang teramat penting sebagai cara yang dapat ditempuh oleh setiap pendidik maupun insan pendidikan untuk membentuk kepribadian generasi berikutnya. Pendidikan, baik di sekolah maupun di luar sekolah adalah wujud konkret dalam mengimplementasikan konsep luhur keberhasilan yang berkepribadian.

Anak, sebagai subjek maupun objek dalam pendidikan perlu untuk dididik menjadi insan tangguh, pantang menyerah, dan berkepribadian dalam menempuh setiap ilmu yang diberikan kepadanya. Anak dididik untuk tekun dalam belajar, sabar dalam menghadapi kegagalan, dan berintegritas dalam menyampaikan pendapatnya. Anak juga perlu dididik untuk tidak cepat puas dengan hasil yang didapat, tidak menyombongkan apa yang dimiliki dan mudah putus asa dengan kegagalan yang dialami.

Dalam proses pembelajaran di kelas, anak perlu dididik untuk menjadi pribadi yang mandiri dan juga memiliki motivasi berprestasi. Mandiri di sini berarti anak dapat memanfaatkan segala potensi yang dimiliki untuk mengembangkannya dalam proses pembelajaran. Anak tidak memiliki ketergantungan berlebih kepada temannya, gurunya, atau bahkan lingkungan sekitarnya. Motivasi berprestasi juga perlu dimiliki oleh anak agar dalam belajar anak terus memacu diri untuk menjadi lebih baik.


            Motivasi berprestasi bukan hanya menjadi juara di dalam kelas (dalam hal akademik saja). Lebih dari itu, motivasi berprestasi dapat muncul ketika anak memahami dirinya sendiri, memahami potensi yang dimiliki dan kekurangan yang dimiliki. Selanjutnya anak akan memfokuskan pada potensi apa yang dapat dikembangkan dalam dirinya. Potensi yang terus diasah tersebut tentu akan menjadikannya lebih unggul dalam bidang tersebut meskipun ada kekurangan dalam bidang lainnya. Hal ini berarti bahwa siswa yang berprestasi, bisa saja dari sisi akademik maupun non-akademik (misalnya: berprestasi dalam bidang olahraga atau seni).

Syah (2005: 156) menyebutkan banyak faktor yang memengaruhi prestasi belajar siswa. Faktor tersebut dibagi menjadi tiga, yakni faktor internal, faktor eksternal dan faktor pendekatan belajar. Faktor internal meliputi faktor fisiologis dan psikologis,  faktor eksternal meliputi lingkungan sosial dan lingkungan nonsosial. Faktor pendekatan belajar meliputi pendekatan tinggi, pendekatan menengah dan pendekatan rendah. Perbedaan prestasi belajar ini perlu dilihat penyebabnya. Selama ini, yang menjadikan dasar penilaian guru terhadap prestasi belajar siswa di kelas adalah IQ siswa. Jika siswa memiliki IQ (dilihat dari input masuk) sudah tinggi, maka nilai belajar siswa juga tinggi. Begitu pula sebaliknya, jika IQ rendah maka nilai-nilai belajar siswa pun akan rendah.

Banyaknya faktor yang menjadikan anak berprestasi dalam belajar baik dari sisi akademik maupun non-akademik tersebut akan kondusif jika didukung oleh kemauan dari dalam diri maupun dari luar diri siswa. Jika ada sinergi pada kedua aspek tersebut maka akan menghasilkan pribadi anak yang berprestasi juga berkepribadian karena ada dorongan dan dukungan dari diri dan pihak lain.

Pendidikan yang berkepribadian, atau sering disebut sebagai pendidikan karakter, merupakan proses pendidikan yang mengimplementasikan pola kepribadian adiluhur dalam proses pembelajaran. Guru atau pendidik memiliki kewajiban untuk memasukkan nilai-nilai karakter dalam proses mengajarnya. Guru yang dalam istilah Jawa dikenal dengan digugu lan ditiru (dipatuhi dan ditirukan), menjadi sosok sentral dalam mengejawantahkan makna karakter bagi anak didiknya. Guru yang menjadi tauladan harus memiliki sikap yang positif dan optimistis agar memotivasi anak didiknya untuk memiliki mental unggul dan berprestasi.

Mulyasa (2013: 13) menyebutkan delapan hal yang perlu diperhatikan dalam menyukseskan pendidikan karakter di sekolah. Kedelapan hal tersebut adalah pahami hakikat pendidikan karakter, sosialisasikan dengan tepat, ciptakan lingkungan kondusif, kembangkan sarana dan sumber belajar yang memadai, disiplinkan peserta didik, pilih kepala sekolah yang amanah, wujudkan guru yang dapat digugu dan ditiru, serta libatkan seluruh warga sekolah dalam menyukseskan pendidikan karakter.

Dari delapan hal tersebut, sarana dan sumber yang memadai, lingkungan yang kondusif, dan pendisiplinan peserta didik (memotivasi peserta didik untuk disiplin) menjadi faktor yang penting terkait prestasi belajar. Ketiga hal tersebut dijadikan bagian dari tolak ukur pencapaian prestasi belajar peserta didik. Semoga bermanfaat.

 

Selasa, 05 April 2022

“Think Different” ala Steve Jobs

 Disarikan oleh RD Yunianta



Pernahkah Anda berfikir bahwa kesuksesan dibentuk dari jalur berbeda dari keumuman? Hal yang lazim di masyarakat akan menghasilkan keteraturan. Dan seseorang yang berfikir berbeda, mungkin kelak akan menjadi pembeda yang sukses dijalurnya sendiri. Dalam buku yang berjudul “Rahasia Inovasi Steve Jobs” membahasnya dengan sangat menyentuh. Buku ini menarik untuk disimak lebih lanjut.

Berkisar tentang kesuksesan Jobs yang berpikir berbeda dalam memaknai tiap hal yang ia temukan atau yang mendatangi dirinya, maka ia temukan kejutan yang berbeda bagi dunia. Oh iya, sebelumnya mungkin masih ada yang bingung dengan sosok Steve Jobs. Ia adalah orang yang paling berpengaruh pada kesuksesan Apple, perusahaan yang berinovasi pada computer, pemutar MP3 dan smartphone. Hal yang menarik dari Jobs adalah bahwa ia merupakan salah satu CEO paling tertutup di muka bumi. Dia jarang sekali terlihat di tengah public, hingga kebanyakan karyawan Apple belum pernah bertemu dengannya.



Lebih lanjut, jika Ingin mengenal lebih jauh tentang pikiran berbeda Steve Jobs? Beginilah gambarannya:

Prinsip 1: lakukan apa yang anda cintai. Pikirkan karier anda secara berbeda

Prinsip 2: tinggalkan jejak di alam semesta. Pikirkan visi anda secara berbeda

Prinsip 3: nyalakan otak anda. Pikirkan cara berpikir anda secara berbeda

Prinsip 4: jual mimpi, bukan produk. Pikirkan konsumen anda secara berbeda

Prinsip 5: katakan tidak terhadap 1000 benda. Pikirkan desain Anda secara berbeda

Prinsip 6: ciptakan pengalaman yang sangat hebat. Pikirkan brand experience Anda secara berbeda

Prinsip 7: kuasai peran anda. Pikirkan cerita anda secara berbeda.

 

Sebagai tambahan di akhir bahasan, ada artikel menarik yang cukup menggelitik “ Jangan biarkan orang bodoh mematahkan semangat Anda” hemm… cukup menggelitik ya. :D Tetapi mungkin itulah kata yang sedikit “vulgar” untuk mengungkapkan bahwa jangan biarkan orang lain menguasai hidup Anda. Anda adalah pahlawan bagi diri anda sendiri. Maka tak perlu ragu dengan semangat dan kekuatan diri sendiri.

sebagai pemantik semangat baru, berikut beberapa kutipan lain dari tokoh-tokoh hebat yang menarik dikutip juga:

“Rasa percaya diri merupakan cara paling pasti untuk memperoleh apa yang Anda inginkan. Jika di dalam hati Anda mengetahui bahawa anda menjadi seseorang, Anda akan menjadi orang tersebut. Jangan biarkan pikiran Anda berpikir sebaliknya. Hal itu fatal.” – Jendral George S. Patton

“Jangan biarkan opini orang lain menenggelamkan suara hati Anda sendiri”. – Steve Jobs.

“Percaya pada diri anda sendiri. Mungkin orang lain tidak memahaminya karena mereka tidak dapat membayangkannya, atau mereka mendapat informasi bermanfaat yang baik, sedangkan ide anda tidak masuk di dalamnya. Mereka hanya mengetahui apa yang dipaparkan kepada mereka, dan itu merupakan jenis prasangka yang bertentangan dengan semangat inovasi.” –Woz

“Pengusaha hebat berfokus hanya pada hari ini, namun pengusaha inovatif memiliki peta jalan di mana mereka akan berada pada hari esok” –Bajarin

Bagaimana, mulai tertarik meniru pola tersebut?? :D

Minggu, 03 April 2022

BAHASA DAN KE-INDONESIAAN KITA

 RD Yunianta

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai jasa pahlawannya. Bangsa yang mau mengakui keberagaman dan juga mewarisi setiap tinggalan yang pernah diberikan oleh pendahulunya. Bila kita mau mengingat kembali zaman kejayaan di masa lampau, zaman dimana pernah nusantara ini menjadi besar berkat dua kerajaan, Sriwijaya dan Majapahit. Lalu, pada akhirnya nanti akan menjelma menjadi sebuah bangsa besar yang berdaulat, Indonesia.

Sejak disepakatinya hasil konggres pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, yang salah satunya menyepakati bahwa bahasa persatuan adalah bahasa Indonesia, maka secara sosiologis kita telah memiliki bahasa resmi kita. Lebih lanjut, jika menilik kembali bagaimana pemilihan bahasa melayu pada masa itu dan kemudian disepakati sebagai bahasa lingua-franca menjadi bahasa Indonesia, kita menjadi besar karenanya. Kita menjadi berdaulat dan memiliki kemampuan untuk berdikari dengan milik kita sendiri, dengan bahasa kita sendiri.

Meskipun dalam proses perkembangannya, bahasa Indonesia itu dinamis, berkembang sesuai dengan konteks zaman yang selalu berubah, memiliki khasanah dan juga mampu menyerap dan meleburkan menjadi penambah kosakata kita, berarti menunjukkan bahwa bahasa Indonesia ini merupakan cerminan penuturnya, mampu beradaptasi dengan keaadaan lingkungannya. Bahasa Indonesia luwes dalam berproses meskipun tetap tidak akan meninggalkan jati dirinya sebagai bahasa pemersatu di seluruh sabang hingga merauke.


        Lantas, ketika kita mulai dihadapkan dengan berbagai problema yang ada di sekitar kita, khususnya dalam pemakaian bahasa baik dalam kehidupan sehari hari ketika bercengkrama dengan handai tolan, maupun ketika berbicara dalam forum resmi, haruskah kita mulai mengalihkan bahasa menjadi bahasa yang berbeda?

Taruhlah misalnya, dalam presentasi ilmiah maupun suasana perkuliahan, haruskah kita memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa percakapan. Jawabannya tentu saja, Ya. Karena dengan berbahasa Indonesia kita akan semakin menghargai dan juga mencintai ciri kebesaran kita sebagai sebuah bangsa yang berdaulat. Bangsa yang mampu menggunakan bahasanya dalam setiap komunikasi dan sarana ekspresi diri.

Lain kasus misalnya, kita mendapatkan klien warga asing dalam sebuah diskusi resmi, haruskah kita mengubah bahasa kita menjadi bahasa mereka meskipun kita tahu dengan menyampaikan komunikasi dengan bahasa mereka akan menimbulkan kesan lebih intelek? Jika dilihat dari sudut ke-Indonesiaan, karena forum itu masih dalam lingkup NKRI, alangkah lebih elok dan bijaksana kita menggunakan bahasa kita sendiri dan mencoba memahamkan bahasa kita kepada klien asing, dengan tujuan bahwa kita merdeka di negeri kita sendiri. Kita berdaulat dengan memakai bahasa kita, dan kita bangga dengan apa yang kita miliki, bahasa Indonesia.

Pertanyaannya adalah, bagaimana jika kllien asing kita sama sekali nol pemahaman terkait bahasa Indonesia selain kata ya dan tidak? Tentu akan bijak jika kita bisa memahami situasi tersebut tanpa harus berupaya utuk mengubah penggunaan bahasa kita dalam situasi tersebut. Kita perlu menggunakan bahasa klien, tetapi tetap dalam koridor untuk memahamkan bahasa kita ke dalam percakapan selanjutnya. dengan kata lain, kita bisa berlayar dengan dua sampan sekaligus, menyampaikan apa yang ada dalam keinginan kita, juga mencoba membelajarkan bahasa Indonesia kepada lawan tutur kita.

        Jika pun hal itu masih terasa sulit, toh kehidupan ini juga sulit. Lalu kenapa kita menjadi mamang terhadap kesulitan? Jika orientasi kita adalah meng-Indonesiakan bahasa kita sendiri, kenapa masih risau dengan kebingunan lawan tutur untuk memahami dan memelajarinya. Asalkan ada upaya sadar dari kita bersama bahwa bahasa Indonesia ini juga perlu dituturkan bukan hanya kepada mitra tuturan yang benar-benar memahami bahasa Indonesia atau setidaknya mengerti tentang bahasa Indonesia.

Dengan demikian, sebagai bangsa yang besar, seharusnya kita memiliki rasa kebanggaan terhadap bahasa kita sendiri terlepas dari mana kita akan menilai seberapa penting penggunaan bahasa kita dalam setiap konteks tuturan yang kita gunakan. 



Minggu, 27 Maret 2022

RUMAH BAGI PEMBELAJAR SEJATI

 

Oleh: RD. Yunianta

Belajar merupakan hak setiap insan berpendidikan. Meskipun pada awalnya pendidikan menjadi suatu hal yang diwajibkan oleh pemerintah sebagai bagian dari proses mencerdasan kehidupan bangsa, namun pada intinya pendidikan itu melekat pada diri setiap manusia yang mau tak mau harus berkembang dan dikembangkan agar tidak terjadi adanya stagnasi pengetahuan atau bahkan lebih fatalnya kemunduran peradaban.

Belajar, berarti upaya sadar pada diri sendiri untuk mengubah pola perilaku dari yang kurang menjadi hal yang lebih baik. Meski demikian, proses belajar tentu saja tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu upaya dan usaha yang kontinyu dan sungguh-sungguh agar target pembelajaran yang sesungguhnya dapat tercapai.



Lebih dari itu, belajar akan semakin bermakna jika apa yang dipelajari dapat diserap dan dikembangkan oleh pihak lain. Dengan kata lain, pembelajar akan memberikan dampak positif perubahan kepada lingkungannya, baik lingkungan di mana ia tinggal maupun lingkungan disiplin ilmu yang ia pelajari.

Belajar, bukan hanya duduk di bangku sekolah, menerima apa saja materi yang diberikan oleh pengajar, mengerjakan tugasnya. Lalu pulang dengan keletihan hingga lupa apa yang telah dipelajarinya tadi pagi di sekolah. Belajar bukan hanya sekadar itu. Belajar adalah proses (yang salah satunya ada di dalam lembaga pendidikan) dan mengolah segala daya cipta untuk menghasilkan sesuatu yang baru, yang bermakna dan memiliki nilai guna.

Belajar dapat dilakukan di mana saja, kapan saja, dan bahkan dalam situasi apapun. Ketika seseorang sedang menunggu antrian bus misalnya, tiba-tiba ada penjual asongan lewat. Penjualnya sudah renta, dengan dagangan seadanya. Keuntungan yang tentu saja tak seberapa. Tetapi, dari sanalah salah satu proses belajar itu bisa bermula. Bagaimana jika dilihat dari segi moral, bahwa setiap insan tidak boleh hanya mengadahkan telapak tangan untuk menemukan rejekinya sendiri. Seseorang harus berupaya dengan giat dan gigih untuk mengais rejekinya. Memanen karunia Ilahi yang telah terserak di seantero bumi.



Lain halnya ketika ia melihat dari segi kemanusiaan, penjual asongan itu adalah sarana untuk menguji kepekaan kita. Apakah kita akan membiarkan ia kehujanan dan kepanasan tanpa sepeserpun rejeki di tangan,? Atau akan kita ulurkan sedikit lembar rupiah untuk menyudahinya berpeluh tanpa hasil. Meski kita tahu, mungkin kita belum membutuhkan apa yang akan kita beli nanti. Tujuan utamanya bukan untuk mendapatkan benda dari penjual asongan itu, tapi bagaimana kita mengasah emosional kemanusiaan kita dan memberikan senyuman indah kepadanya. Itu sudah lebih dari cukup.

Maka, ketika ditanya dimanakah letak rumah bagi seorang pembelajar sejati? Jawabanya tentu saja bukan sekolah. Karena pembelajar sejati akan selalu menemukan rumahnya untuk belajar dimanapun ia berpijak, ia melangkahkan kaki dan bahkan ketika ia merebahkan diri.

Selamat berproses,

27 Maret 2022

Kamis, 24 Maret 2022

RINDU

RINDU

(RD Yunianta)

 

Selaksa kilat tetiba menyambar keheningan

Memupus mimpi yang melambung tinggi

 

Terjaga ku,

sebelum sempat membelai waktu

Pada tanda yang tak mampu kubaca

Kutitipkan pada semesta

 

Semoga,

segera kau temu bintang terang

di pekat malam,

 

Dalam keheningan,

Pada tengadah doa

Kutitip rindu

Yang terus memburu...

 

Parangtritis, 17-1-22

Kamis, 15 Maret 2018

CAKRA MANGGILINGAN, PUTARAN RODA KEHIDUPAN



Berputar layaknya roda. Itulah kehidupan. Berjalan melaju maju dan tak tentu kemana akan berakhir. Begitulah hidup. Kita selayaknya sebuah roda yang terus berputar. Roda itu, bagaikan hidup kita yang kadang berada pada posisi atas, atau bahkan berada di posisi paling rendah. Tidak akan ada yang tahu kemana roda berputar itu berhenti. Sampai dimana tujuan itu berakhir. Kadang saat berada di posisi atas, roda berhenti. Dalam hal ini dapat disebutkan bahwa saat itu hidup kita berada dalam suasana yang indah dan nyaman, penuh kebahagiaan.
Lalu, bagaimana jika pada akhirnya kita berada di posisi bawah ketika roda kehidupan kita berhenti? Haruskah sesal yang didapat dan merenung tanpa kepastian? Selayaknya tidak karena sesuai pepatah urip iku mampir ngombe, maka mampirnya kita di dunia ini untuk meneguk sari pati kehidupan sebagai bekal di alam selanjutnya. Jika kita meminum hal yang baik, meskipun secara lahiriah tampak buruk di mata orang lain, kita akan mendapat kebahagiaan kelak sebagai ganjaran atas apa yang kita perbuat di dunia. Sebaliknya, jika kita meminum keburukan, meskipun tampak hal itu sebagai sesuatu yang luar biasa di mata orang, kita akan tetap mendapatkan dampak keburukan dari benih yang kita tanam.
Jadi pada titik akhirnya, sebagaimana roda yang berputar, hidup pun terus berputar dengan tetap meneguk air suci kehidupan dengan pesan kebaikan. Agar kita tak sempat menyesal ketika roda kehidupan kita diberhentikan. Sekian.

Senin, 09 November 2015

BELAJAR DARI FILOSOFI PION




FILOSOFI PION DAN ARTI PERJUANGAN
Oleh: Rohmat D. Yunianta (https://habieneka.blogspot.com/)

Menarik, belajar dari mengamati bagaimana pion ditakdirkan untuk menjadi korban pertama dalam setiap permainan Bidak Catur. Pion, dianggap sebagai prajurit garda terdepan yang berjuang sebagai benteng pertama yang harus dikorbankan untuk melindungi prajurit atasannya, utamanya adalah raja itu sendiri.
Pion  dapat juga diumpamakan sebagai anak kecil yang sekolah untuk mendapatkan predikat tertinggi hingga dapat bermetamorfosis menjadi bidak unggulan setingkat patih, menteri, dst. Lalu begitukah sebatas kemampuan pion??
Baiknya kita simak sisi lain dari pion yang mungkin terabaikan selama ini.
*      Maju terus,
Tidak pernah ada sejarahnya pion mundur ke belakang, ke tempat semula untuk menghindari sergapan lawan atau untuk mengatur strategi dalam pertandingan. Apabila pion telah dilepas maju satu bidak ke depan, maka ia tetap akan bertahan disana atau maju terus, tidak bisa lagi mundur. Ini mengindikasikan bahwa kehidupan ini perlu disikapi untuk terus melihat ke depan karena kehidupan tidak mungkin akan membalik ke masa lalu, masa yang telah terlewati seperti bidak yang telah ditinggalkan.
*      Si mungil yang gigih,
Jika dilihat dari ukuran, maka pion adalah tokoh paling mungil yang ada dalam bidak catur. Namun tunggu dulu, bukan berarti mungil itu tak berdaya. Ia, pion itu adalah bidak yang gigih. Ia akan bertahan meskipun harus bertempur menghadapi pion lawan, menteri lawan, atau mungkin patih yang menghadapinya. Dengan bergandengan tangan dengan pion lain, dengan memposisikan dalam alur diagonal dengan pion lain, maka pion adalah pihak yang gigih, yang tak mudah rapuh, tak mudah patah ibarat mati satu tumbuh seribu. Saling menjaga sesama, saling mendukung, dan menjadi garda terdepan perjuangan.
*      Rela berkorban
Lagi, pion adalah bidak yang diposisikan sebagai korban pertama untuk melindungi prajurit di belakangnya. Ini seakan membuatnya tak berguna. Padahal pion adalah bidak yang rela berkorban untuk strategi kemenangan. Coba lihat, bagaimana sering pion dijadikan umpan gratis untuk memancing lawan membuka celah agar pertahanannya goyah. Namun, pion tetap berada pada garisnya untuk berkorban terutama jika raja benar-banar terdesak.
*      Setia,
Pion adalah tipe yang setia pada filosofi permainan. Ia tak akan mundur ketika telah melangkah. Ia menerima ketika dikorbankan untuk sebuah misi yang mulia –kejayaan. Pion tetap rendah hati dan tak menolak untuk setiap tugas yang diberikan karena kesetiaan kepada pihak tertinggi dalam permainan menyadarkannya untuk patuh dan taat pada aturan yang diberikan.
*      Mampu bermetamorfosis,
Pion adalah satu-satunya bidak catur yang mampu bermetamorfosis menjadi sosok lain yang lebih unggul derajatnya dalam permainan. Ketika ia melangkah, setapak demi setapak tetapi tanpa pamrih. Gigih melaju hingga melewati rintangan pihak musuh, maka pada akhirnya ia sampai pada garis terakhir yang ada di pihak lawan. Jika sampai pada titik nadir itu, pion akan bermetamorfosis menjadi sosok lain yang diinginkan. Ia dapat menjadi kuda, menteri, beteng, atau bahkan menjadi tokoh patih. Ini berkat gigihnya melangkah tanpa menghiraukan siapa dirinya yang kecil, yang terabaikan, yang lemah.
 
Lalu, masihkan kita berfikir tentang diri kita sendiri yang kecil, yang tak terlihat, yang lemah, atau apapun yang menganggap negatif pada citra diri kita?? Jika iya, alangkah lebih baik jika kita kembali menyimak ulang tentang filosofi pion di atas. #selamatmetamorfosis